Selain melirik nama Nurman Hakim yang duduk di bangku sutradara, sekaligus menjadi jaminan “Khalifah” bukanlah film sembarangan, saya langsung tertarik melihat daftar pemainnya, karena disitu terdapat nama Marsha Timothy. Saya tidak tahu apakah Chacha (nama panggilan akrabnya, sok akrab nih saya) bermain sinetron apa tidak setelah “Pintu Terlarang”, tapi yang jelas permainan aktingnya sangat ditunggu di film Indonesia, sesudah dia memaku saya dengan perannya sebagai Talyda di film Joko Anwar tersebut. “Khalifah” pun menjadi tambah menarik karena disini Marsha diharuskan berakting dengan memakai cadar, well yang satu ini membuat rasa penasaran bertambah nilainya satu poin. Marsha berperan sebagai perempuan muda, cantik, dan pintar, bernama sama dengan judul film ini, Khalifah. Semenjak ibunya meninggal, dia sekarang tinggal dengan ayahnya (Brohisman), yang kesehariannya bekerja sebagai penjaga mesjid, lalu ada adik satu-satunya (Yoga Pratama), yang sebentar lagi akan menginjakkan kakinya di bangku kuliah. Sedangkan Khalifah sendiri bekerja di sebuah salon kecantikkan milik Tante Rita (Jajang C. Noer), yang tidak lain adalah sahabat baik ibunya.
“Khalifah” dengan mudah membuat saya melabeli film ini sebagai film dengan tutur cerita yang bertempo lambat. Tapi hal tersebut tidak membuat “Khalifah” lemah secara keseluruhan, lihatlah bagaimana Nurman Hakim membuat kita untuk terjerat dengan konflik awal keluarga Khalifah, walau konfliknya lagi-lagi klise tapi Nurman sanggup menjaganya untuk tidak jadi dangkal, hanya pemeras simpati penonton belaka. Nurman bisa dibilang memperkenalkan konflik yang tidak dibuat berlebihan, cukup hanya satu-dua masalah diawal, uang dan rasa kasihan pada orang tua, bukan konflik “sudah jatuh kena timpa tangga pula”, disini pencipta konflik batin Khalifah masih wajar dan rasional. Nurman juga dengan baik mampu memperkenalkan masing-masing karakternya, sebaik dia mengenalkan karakter di “3 Doa 3 Cinta”. Jika Indra Herlambang sebagai Rasyid adalah karakter yang tertutup—Indra benar-benar merubah image-nya yang dikenal hura-hura menjadi pria berkumis dan berjenggot yang sangat relijius, Khalifah bisa dibilang lebih terbuka kepada penonton. Kita memang terkadang tidak diberi dialog namun kita bisa tahu apa yang sebenarnya ada di dalam benak Khalifah lewat gerak tubuh dan mimik wajahnya. Sesepi setting tempat yang dipakai film ini, rumah yang sama, mesjid yang sama, sampai halte yang sama, film ini juga menawarkan sepinya dialog, namun tidak mengurangi ramainya makna yang tersirat dalam setiap adegannya.
Saya sempat bosan dengan pemilihan lokasi yang hanya “memamerkan” rutinitas tempat yang itu-itu saja, berapa kali saya melihat adegan Khalifah memperbaiki kunci pintu rumah atau hiasan dinding berupa gambar Ka’bah (betulkan jika ternyata gambar lain). Entah kenapa Nurman hobi sekali mengulang adegan yang sama dengan lokasi yang juga sama, membosankan memang, tapi setelah dipikir-pikir mungkin ini adalah refleksi dari kejemuan yang dirasakan oleh Khalifah, kehidupan perkawinannya yang tidak memiliki variasi, menunggu suaminya pulang dan menyambut suaminya ketika datang beberapa minggu kemudian. Nurman pun mengajak penonton untuk merasakan kejemuan tersebut, rasa bosan yang dirasakan oleh Khalifah, rasa bimbang antara meneruskan menonton film ini atau keluar lebih dahulu. Saya memilih untuk tetap berada di kursi seperti halnya si pelakon utama kita yang tetap memilih berada di rumah menyambut suaminya yang kian hari semakin misterius saja dengan tas entah berisi barang dagangan atau ah entahlah. Disinilah peran Nurman diharapkan untuk lebih aktif memberikan rasa penasaran, makin membuat saya terlena dalam prasangka, dan makin mencurigai Rasyid dengan pikiran yang tidak-tidak. Nurman sudah berhasil menyetir saya sebagai penontonnya.
Nurman sebelum pemutaran film dalam press screening yang dilakukan pada Senin, 3 Januari lalu mengatakan Khalifah bukanlah film dakwah. Apakah ini film dakwah? Masing-masing penonton mungkin akan melihatnya secara berbeda dan punya opininya sendiri-sendiri. Sedangkan saya cukup puas mengatakan ini memang bukan film dakwah, jika dibandingkan dengan “3 Doa 3 Cinta” pun saya melihat pesan provokatif di film ini lebih bersahabat, sinopsis yang menyebutkan kata-kata Islam “garis keras” mungkin akan membuat kita membayangkan yang macam-macam lebih dahulu tetapi ternyata Nurman menyampaikan cerita dari sudut yang berbeda, bukan soal seperti apa Islam “garis keras” tetapi apa dampak kata tersebut (yang sepertinya sudah dikonotasikan yang buruk-buruk di masyarakat) terhadap perempuan sepolos Khalifah, yang tidak tahu apa-apa. Dia hanya memakai cadar agar membuat suaminya senang dan Tuhan tidak marah lagi—Khalifah keguguran dan Rasyid menyebut ini adalah peringatan Tuhan agar Khalifah menutup auratnya. Khalifah memang bergulat dengan batinnya dengan memakai cadar tetapi tidak untuk dicemoohkan, dipandang sebelah mata, dan ditunjuk-tunjuk sebagai istri teroris.
Sebagai film pertama yang tayang di tahun 2010, “Khalifah” bukanlah film yang buruk tetapi juga tidak begitu istimewa, saya sendiri masih lebih menyukai “3 Doa 3 Cinta” yang masih memiliki pesona yang kaya warna ketimbang “Khalifah” yang kurang menarik ketika berbicara soal monotonnya film ini ketika bercerita. Namun usaha Nurman Hakim, seharusnya bisa diapresiasi dengan usahanya untuk merefleksikan apa yang sebenarnya terjadi pada masyarakat kita yang pikirannya sudah terpatri seperti yang bisa dilihat di film ini. “Khalifah” mungkin ingin terlihat komersil dengan poster yang terpajang seperti itu—sekali lagi poster film Indonesia yang ingin bermain aman, namun jelas terlihat setelah menonton, “Khalifah” bukanlah film yang membuat kita berkata enak dengan sekali gigitan, bisa dibilang jauh yah dari kata film yang komersil dengan tema yang secara “relijius” serupa tapi tidak sama dalam kemasannya. Berjalan dengan lamban, membuat “Khalifah” membosankan, butuh waktu lama untuk film ini untuk menemukan jalannya mengikat chemistry kepada penonton.



No comments:
Post a Comment