Sutradara Iqbal Rais tergolong cukup produktif di perfilman kita. Baru saja sukses dengan Senggol Bacok, kini muncul lagi film terbarunya yang tetap mempertahankan kebiasaannya dalam genre komedi. Sebagai sutradara, Iqbal sebenarnya punya kredibilitas yang bisa dibilang cukup baik dalam spesialisasi itu. Jarang-jarang ia tergelincir ke karya yang sembarangan. Selalu ada inovasi tematik dalam film-film yang dibesutnya, cara bertuturnya efektif, dialognya kaya, dan turnover-turnover komedinya juga sama baiknya. Pilihan soundtrack-soundtracknya juga tak pernah asal comot tapi hampir selalu menyatu dengan filmnya. Setelah sebarisan kiprahnya, kini Iqbal datang dengan sebuah idealisme dari tempat kelahirannya, di Samarinda, Kalimantan Timur. Walau genrenya tetap komedi, namun ada pesan pelestarian lingkungan hutan tropis, budaya suku asli serta sedikit informasi yang disertakannya dalam usaha pariwisata baru di daerah penghasil batubara terbesar di negeri ini. Jarang-jarang lho, plot film kita diselipi pengetahuan informatif seperti banyak film-film luar. Daerah Kalimantan yang belakangan kembali populer dengan sebutan Borneo sebenarnya tak baru sekali ini menjadi latar film kita. Ada beberapa film zaman dulu, sampai yang terakhir, The Shaman, thriller-slasher yang gebrakannya cukup baik namun secepat itu juga tenggelam tanpa peredaran VCD/DVD-nya. Dalam usaha itu, Iqbal juga menggamit aktor senior, Piet Pagau, yang juga putra daerah yang sama, suku Dayak asli, bahkan ikutan tampil sebagai cameo seorang supir taksi.
Ambisi Iqbal dengan cerita penuh pesan pelestarian lingkungan dan kaya informasi ini sayangnya tak didukung chemistry yang baik dari pendukung utamanya. Chemistry Ringgo-Desta yang dulu pernah terasa kuat sekali termasuk dalam ‘Get Married’ atau film Iqbal sendiri, ‘Si Jago Merah’, memang sudah melemah dalam ‘Bukan Malin Kundang’ dan kini menjadi semakin berantakan. Dennis Adhiswara yang di awal-awal karirnya juga punya potensi sebagai komedian berbakat juga seolah tertinggal di belakang dominasi Ringgo dan Desta yang seakan berlomba menghancurkan chemistry mereka sendiri. Kelucuan-kelucuan yang digelar pun semakin terjebak menjadi sesuatu yang terlihat dipaksakan. Padahal, sejumlah pendukung lain bermain cukup baik termasuk Piet Pagau, Joe P Project yang tetap lucu seperti biasanya hingga pendatang baru Siti Anizah, meski terkesan kelewat modern buat karakternya. Pemilihan set-nya juga cukup efektif membawa sisi informatif yang digelar Iqbal. Satu lagi kesalahan terbesar adalah menempatkan (lagi-lagi) Ringgo di sempalan dramatisasi dan lady-interest yang, err… maaf, percayalah, hanya bisa berpengaruh buat pemirsa ABG dan para alay. However, beberapa good elements ala Iqbal seperti soundtrack yang pada, penuturan serta inovasi tematik tadi tetap muncul untuk sedikit menyelamatkan chemistry yang babak-belur tadi. 3 Pejantan Tanggung akhirnya hanya menyisakan pesan dan informasi yang lumayan membedakannya dengan film-film komedi tanpa juntrungan, namun secara keseluruhan pas sekali dengan judulnya yang belakangan berubah dari judul awal ‘Dunia Dalam Negeri’. Not bad tapi serba TANGGUNG. Next, maybe Iqbal bisa lebih dulu melakukan match and re-match terhadap ensembel aktor utamanya dalam karakterisasi yang pas, karena dengan kecermatan itu, seperti dalam karya terakhirnya, ‘Senggol Bacok’, seorang Ringgo pun bisa jadi terlihat lucu ketimbang menyebalkan.(dan)
Sutradara : Iqbal Rais
Produksi : Rapi Films, 2010



No comments:
Post a Comment